New Al Wajiz

Ringkasan Ilmu Islam dan Ilmu Elektronika

Antara Jarh Mufassar dan Ta’di

Antara Jarh Mufassar dan Ta’dil

Oleh Abu Ahmad Abdul Alim Ricki Kurniawan al Mutafaqqih


Jarh wa Ta’dil adalah salah satu cabang ilmu hadits yang dipergunakan ulama untuk menerima atau menolak suatu riwayat hadits dari seseorang. Hal ini juga digunakan ulama untuk menjelaskan kecacatan atau keadilan seseorang. Nah jika kita pernah belajar ilmu Musthalah hadits maka tentunya kita tidak asing dengan kaidah Jarh mufassar muqoddamu ‘ala ta’dil (Jarh terperinci didahulukan dari pada pujian). Namun jika kita belum pernah belajar maka kita akan bingung dan mudah diombang ambingkan oleh pendapat pendapat yang simpang siur tentang hal ini. Berikut ini beberapa keterangan tentang kaidah ini.

Ustadz Abdul Qodir Hasan dalam bukunya Ilmu Musthalahul Hadits halaman 468 menerangkan kaidah ini dengan gamblang, mari kita simak bersama:

Apabila seorang rowi dipuji oleh seseorang (Abu Ahmad: Ta’dil), tetapi ada juga yang mencacat dia atau menunjukkan celaannya (Abu Ahmad: Jarh) , maka yang dipakai ialah celaan orang itu, jika celaannya beralasan (Abu Ahmad: Jarh Mufassar).

Tentang ini, ulama ulama ada yang membuat suatu kaidah, bunyinya begini: Jarh Muqoddamu ‘Alat Ta’diili (Jarh didahulukan daripada pujian).

Contohnya seperti: Ibrahim bin Abi Yahya Abu Ishaq.
Imam Syafi’i dan Ibnu Ash bahani menganggap dia sebagai seorang kepercayaan.
Tetapi berkata Ibnu Hibban: “Adalah ia berpendirian Qadariyah, dan bermadzhab kepada omongan Jahmiyah, tambahan pula ia pernah berdusta dalam urusan hadits”

Syafi’i dan Ibnul Ashbahani memuji dia, sedang Ibnu Hibban menunjukkan celanya. Jadi yang dipakai disini adalah omongan Ibnu Hibban

Syaikh Mahmud Thahhan dalam bukunya Taisir Musthalahul Hadits halaman 123 menerangkan:

8. Berkumpulnya Jarh dan Ta’dil dalam satu rowi
Jika terkumpul jarh dan ta’dil dalam satu rowi.,

  1. Yang shohih dalam masalah ini adalah mendahulukan Jarh jika Jarh itu mufassar (terperinci /beralasan.)
  2. Dan dikatakan juga bahwa lebih banyaknya jumlah orang yang menta’dil daripada yang menjarh membuat ta’dil lebih didahulukan. Namun ini adalah Dho’if dan tidak resmi/shohih

Abu Ahmad:

Dari keterangan diatas jelaslah bahwa jika ada sekelompok ulama ahlus sunnah memuji/menta’dil seseorang namun ada ulama ahlus sunnah yang mencela/menjarh orang itu maka kita lebih mendahulukan jarh tersebut jika jarh itu beralasan. Namun jika jarh tidak beralasan atau tidak dijelaskan sebab sebab jarh maka ta’dil lebih diutamakan. Wallahu’alam .

Rujukan:
Ilmu Mustholah Hadits, karya Ustadz Abdul Qadir Hasan
Taisir Mustholahul Hadits, karya Syaikh Mahmud Thahhan

24 April 2007 - Posted by | Ilmu Mustholahul Hadits

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: